Kami bungkus #FestivalMrica dengan konsep sederhana. Kami tidak berharap ada peserta ribuan. Ya cukuplah puluhan saja. Wong niatnya juga ‘dari, oleh, dan untuk masyarakat Cingebul’, tak lebih tak kurang. Di #FestivalMrica kita akan berbicara soal merica dan pemasaran online, berlatih jurnalistik tulis, foto dan video. Harapannya, masyarakat, terutama kaum muda, bisa membawa Cingebul ke pentas Nasional. Sukur-sukur ke dunia Internasional.

Kami bungkus #FestivalMrica dengan konsep sederhana. Kami tidak berharap ada peserta ribuan. Ya cukuplah puluhan saja. Wong niatnya juga ‘dari, oleh, dan untuk masyarakat Cingebul’, tak lebih tak kurang. Di #FestivalMrica kita akan berbicara soal merica dan pemasaran online, berlatih jurnalistik tulis, foto dan video. Harapannya, masyarakat, terutama kaum muda, bisa membawa Cingebul ke pentas Nasional. Sukur-sukur ke dunia Internasional.

Cingebul.desa.id – Desa Cingebul Kecamatan Lumbir adalah sebuah desa di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah bagian terujung barat. Posisinya meruncing, sehingga di utara dan selatannya diapit oleh wilayah lain Kabupaten Cilacap. Ke perbatasan Provinsi Jawa Barat, jaraknya hanya belasan kilometer saja. Dalam istiilah warga setempat, jarak ini disebut ‘seplintengan’ untuk menunjukkan jarak yang tak seberapa jauh.

Di google map, tiga tahun lalu Anda sulit mencari Desa Cingebul, begitu pun dengan Kecamatan Lumbir. Mungkin dianggap tidak penting. Namun tiga tahun belakakang, Cingebul dan Lumbir sudah tampak di peta meta tersebut. Itu pun dengan nama yang lucu, Cigebul dan Lumbin. Ya, Alhamdulillah, meski salah. Mudah-mudahan sekarang sudah diperbaiki.

Cingebul memiliki potensi luar biasa sebagai daerah pertanian; baik lahan basah (sawah) maupun ladang (tegalan). Sawah, tidak usah lah kita bertubi-tubi mengangkat harkatnya, mulai dari benih unggul hingga pertanian organik benih lokal ada di sini.

Sekarang, Cingebul tengah menggadang-gadang cluster baru petani tanah kering, yang pada mulanya dianggap sebelah mata, bahkan dilirik pun tidak. Petani Cingebul selama puluhan tahun terbiasa menanam ketela pohon alias singkong yang harganya tidak seberapa. Saat panen raya, singkong dijual dengan harga Rp 750. Ini lah yang menyebabkan ladang Cingebul tak begitu produktif.

Merica bagi Cingebul sebenarnya bukan komoditi baru. Di kebun-kebun, banyak yang membudidayakan dengan jumlah terbatas. Ada yang menjalar di pohon kelapa, di mahoni, ada pula yang sembarangan bersirabut di pagar hidup sirisida. Lalu, sekitar enam tahun lampau, beberapa petani inovatif membudidayakan merica tajar secara intesif. Hasilnya ternyata diluar dugaan, mereka ini mulai tahun ketiga sudah panen raya. Bahkan sekarang ada yang sudah mencapai 450 kilogram per musim. Sungguh angka yang fantastis menilik harga merica yang mencapai Rp 160 ribu hingga Rp 230 ribu.

Langkah ini kemudian diikuti oleh petani lain. Sekarang, di Desa Cingebul, sekira 20an hektar merica telah dibudidayakan dengan umur bervariasi antara satu tahun hingga delapan tahun. Desa Cingebul sendiri memiliki lahan sekira 450 hektar.

Respon cepat dilakukan pemerintah desa dan warga masyarakat, kini, kami berangan-angan memiliki merek desa sendiri, dengan  tajuk “Merica” atau dalam bahasa inggrisnya “White Pepper”. Untuk itu, kami menggelar #Festivalmrica yang memiliki kepanjangan Masyarakat Informasi Cingebul Raya. Dari titik ini kami berharap memiliki pandangan yang sama soal merica, soal agronomi, soal pembangunan berbasis kawasan, dan soal pemasaran yang bisa menaikkan posisi tawar petani.

Kami bungkus #FestivalMrica dengan konsep sederhana. Kami tidak berharap ada peserta ribuan. Ya cukuplah puluhan saja. Wong niatnya juga ‘dari, oleh, dan untuk masyarakat Cingebul’, tak lebih tak kurang. Di #FestivalMrica kita akan berbicara soal merica dan pemasaran online, berlatih jurnalistik tulis, foto dan video. Harapannya, masyarakat, terutama kaum muda, bisa membawa Cingebul ke pentas Nasional. Sukur-sukur ke dunia Internasional.

Menariknya adalah, kita bakal anjangsana ke perkebunan merica maha luas di Cingebul yang saat ini tengah menunggu musim panen 2015. Di situ, kita kembali belajar “on the spot” langsung kepada pemilik perkebunan. Kita foto, tulis, divideokan. Mengasyikkan bukan. (admin-r)