????????????????????????????????????

Merica hampir panen di Desa Cingebul. Panen Raya diprediksi datang pada Bulan Ramadhan mendatang (Foto: Admin-r)

Cingebul.desa.id – Tohirin (55) tak menyangka jerih payahnya bakal dihargai setinggi ini. Bayangkan saja, dulu, saat ia mulai menanam, merica masih seharga Rp 80 ribu per kilogram. Namun kini, akibat kelangkaan merica atau biasa disebut white pepper dalam bahasa kerennya, naik drastis menjadi Rp 160 ribu per kilogram pada musim panen raya.

“Kalau kuat nyimpan tiga bulan bisa mencapai Rp 230 ribu per kilogram,” kata Tohirin.

Saat ini, petani desa Cingebul Kecamatan Lumbir Kabupaten Banyumas ini tiap musim panen sekira 300 kilogram di lahan seluas 1750 meter persegi. Padahal, di kebun lain miliknya, tahun ini adalah masa penen pertama di usia tiga tahun.

“Yang kedua ada di kebun seluas setengah bau atau 3500 meter persegi. Panennya masih sedikit, kisaran 1,5 kwintal,” ujarnya.

Itu berarti, dalam semusim, tohirin memanen sekira 4,5 kwintal merica kering, atau jika dirupiahkan pada masa panen raya Rp 72 juta dan Rp 103 jutaan saat dijual empat bulan setelah panen raya.

Tohirin hanyalah salah satu dari puluhan petani di Desa Cingebul yang membudidayakan merica. Total, di Desa Cingebul ada sekira 20-an hektar tegalan (lahan kering-red) yang ditanami merica.

Seperti Mustofa misalnya, petani muda ini mulai menanam tiga tahun lalu di lahan 2000-an meter persegi miliknya. Ini merupakan panen perdana.

“Masih sedikit, paling hanya 30 kilogram,” ujarnya.

Sementara, petani merica senior lain, Sukirman sudah memanen sekira 200 kilogram dari kebun mericanya.

Kepala Desa Cingebul, Khusnadin mengatakan budidaya merica memang menjadi unggulan utama desa Cingebul. Ia sudah mengajukan konsep perkebunan merica ke Dinas Pertanian Banyumas. Dalam waktu dekat, kata dia, Dinas Pertanian akan meninjau lokasi perkebunan merica warga.

Cingebul memiliki 450an hektar lahan kering milik warga. Alih-alih ditanami singkong yang harganya tak seberapa, Khusnadin mendorong agar lahan masyarakat ini ditanami merica yang memiliki prospek bagus hingga masa mendatang.

“Kalau bisa langsung ke eksportir kan harganya lebih tinggi. Harapannya begitu,” jelas Khusnadin.

Dalam jangka pendek, ia menargetkan pertambahan luas perkebunan merica di Cingebul menjadi 50 hektar dalam dalam jangka setahun dan 100 hektar dalam jangka 3 tahun. Terdengar mustahil, namun jika melihat geliat merica yang tengah ngetren target ini bukan isapan jempol belaka.

“Konsepnya, one village one product, satu desa satu produk unggunlan. Karena ada potensi lahan kering, kita manfaatkan untuk komoditi yang berpangsa pasar bagus. Kita akan kelola ini agar bisa menjual langsung ke eksportir,” ujarnya. (admin-r)