image

Cingebul.desa.id – Abid abidan merupakan tradisi untuk mengiring anak yang mau di khitan kini hampir jarang terlihat di Desa Cingebul atau hampir punah.

Abid dibuat dari sebatang bambu sepanjang 1,5 meter yang pada kedua ujungnya di beri sumbu dengan kain karung kemudian diikat atau diklem dengan potongan seng dan di paku. Sebelum abid dinyalakan biasanya direndam pada minyak tanah terlebih dahulu selama dua jam atau lebih kemudian abid dinyalakan dan diputar putar dengan cepat sehingga terbentuklah lingkaran api atau disebut abid abidan.

Biasanya jumlah abid untuk mengiring anak yang akan dikhitan sebanyak lima atau enam buah tergantung permintaan sohibul hajat, selain abid ada juga sempor sewu dan sempor biasa.

image

Dalam mengiring juga di ramaikan dengan alat musik khas orang islam yaitu genjring, dan pada kesempatan malam hari ini diiringi juga dengan musik kenthongan oleh grup Bhakti Laras yang personilnya anak-anak dari SD Negeri 5 Cingebul pimpinan Hilal Kurniawan.

Tradisi nenek moyang (abid abidan) kini hampir jarang dijumpai di Desa Cingebul atau hampir punah, tutur Tosin Hamzah ketua rombongan abid yang di wawancarai reporter cingebul.desa.id setelah iring iringan khitanan ananda Anhar bin Sohirun ketua RT 02 RW 08 Desa Cingebul.

Penulis Tofa