Merica jenis ini menjadi primadona petani di Desa Cingebul (foto: detiktravel.com)

Merica jenis ini menjadi primadona petani di Desa Cingebul (foto: detiktravel.com)

Kendati agak sulit diucap, nama ini indah diperdengarkan, Muntok White Pepper. Ini lah spesies yang membuat ibunda pertiwi dicengkeram bangsa kolonial selama 350 tahun. Apa pasal? Komoditas yang disebut merica atau lada putih ini sejak masa abad pertengahan menjadi rempah terpenting yang berharga tinggi.

 

Tak heran, jika negara asal Cristiano Ronaldo, Portugis sungguh berhasrat hendak mencaplok Bangka Belitung, Maluku dan sebagian Indonesia timur yang saat itu menjadi penghasil lada terbesar. Tak tinggal diam, Belanda, yang sebagian negaranya berada di bawah permukaan laut bernafsu pula menggantikan Portugis memonopoli komoditas berharga ini.

 

Hingga kini, merica menjadi komoditas rempah terpenting di dunia. Sedangkan Indonesia, sayangnya, tidak lagi menjadi penghasil rempah yang membuat kita terjajah 3,5 abad. Indonesia terakhir kali menjadi nomor 1 penghasil lada di tahun 2000. Namun, lambat laun kita disalip oleh negara yang hingga akhir tahun 1990-an lalu masih mengalami perang saudara, Vietnam. Indonesia mulai tertinggal dari Vietnam saat negara Indocina ini mulai membudidayakan merica secara intensif. Saat ini Indonesia berada di posisi ketiga setelah Vietnam dan Brazil.

 

Pasar merica yang terbuka lebar di pasar domestik dan internasional ini lambat laun memicu petani lahan kering untuk membudidayakan tanaman jenis perdu yang baik di tanam di lahan dataran rendah maupun tinggi ini.

 

Tidak mau ketinggalan, petani di Desa Cingebul Kecamatan Lumbir Kabupaten Banyumas juga mulai membudidayakan merica secara intensif mulai 2005-an. Lambat laun, budidaya merica menjadi primadona di desa ini.

 

Dari lahan kering seluas 540-an hektar di Desa Cingebul, setidaknya 30 hektar diantaranya ditanami merica. Jika sebelumnya merica hanya dijadikan tanaman sela, kini petani menjadikan merica sebagai tanaman utama yang  dibudidayakan secara intensif.

 

“Saya mulai menanam merica setelah menyaksikan Pak Sukirman panen hingga 300 kilogram. Padahal saat itu harga sudah mencapai Rp 120 ribu. Bayangan hasil besar ini membuat saya tertarik membudidayakan merica secara intensif,” tutur Mustofa, petani muda di desa ini.

 

Perangkat Desa Cingebul ini mengatakan saat ini harga per kilogram merica bahkan sudah mencapai Rp 180 ribu. Jika panen raya, harga terendah adalah Rp 160 ribu per kilogram.

 

Mustofa mulai menanam merica di lahan seluas 2000 meter persegi mulai tiga tahun lalu. Sekira 100 rumpun merica tumbuh di tanah miliknya. Jerih payahnya sudah mulai menampakkan hasil. Tahun ini, tanaman merica Mustofa mulai panen, meski dalam jumlah terbatas. “Paling baru 30-an kilogram,” ujarnya.

 

Mustofa yakin betul dengan masa depan merica miliknya. Masa panen berikutnya ia sebut akan masuk masa emas umur tanaman merica hingga umur 12 tahun, atau sekitar 8 tahun dari sekarang.

 

“Di puncak umur emas, merica bisa menghasilkan 1 kilogram per rumpun. Bahkan yang bagus bisa mencapai 2 kilogram per rumpun,” katanya, optimis.

 

Coba hitung saja rupiah yang masuk ke kantong Mustofa jika 100 rumpun ini menghasilkan rata-rata 1,5 kilogram. Per tahun Mustofa bakal meraup Rp 170 juta dari lahan seluas 2000 meter miliknya. (Bersambung).

(Tulisan berikutnya adalah reportase kunjungan ke petani dengan lahan terluas di Desa Cingebul)

 

Artikel ini adalah tulisan pertama dari 3 tulisan tentang merica di Desa Cingebul**