image

Cingebul.desa.id – Melestarikan tradisi menjadi hal penting dilakukan, apalagi di dalamnya terkandung nilai-nilai sosial dan ibadah. Itulah yang menjadi alasan, mengapa masyarakat Grumbul Wanasri Desa Cingebul Kecamatan Lumbir, Banyumas selalu menggelar tradisi murak tompo setiap Ramadan tiba.

Sebuah tradisi menyantap menu makanan lengkap dengan lauk-pauk yang disajikan dalam baki, menggunakan alas dan penutup daun pisang. Setiap tompo dalam satu baki, disantap oleh satu kelompok dengan jumlah lima hingga tujuh orang.

Kegiatan tersebut dilaksanakan tiga kali selama Ramadan dan sekali saat Idul Fitri. Tompo dibuat oleh masing-masing Kepala Keluarga (KK) dari tiga RT yang ada di wilayah tersebut. Tompo disantap ratusan jamaah masjid usai salat tarawih. Khusus Ramadan kali ini, murak tompo dilaksanakan pada malam 17, 21 dan 25 Ramadan.

Ketua Tamir Masjid Baiturrahim Wanasri, K. Sungeb Asngari mengemukakan, semangat masyarakat Wanasri melestarikan tradisi itu karena di dalamnya mengandung beragam nilai sosial dan ibadah. Sehingga sudah menjadi kesepakatan bersama, tradisi tersebut akan selalu digelar Setiap Ramadan tiba. “Nilai ibadah dan sosial yang terkandung dari ajakan untuk bersodaqoh dengan saudara, rukun dengan makan bersama dan tidak membedakan satu sama lain. Tua muda, pejabat atau rakyatnya, ustadz atau murdinya semua berkumpul dan sama rata menikmati tompo,” kata imam utama Masjid Baiturrahim itu.

Lebih dari itu, sesuai jadwal prosesi, konsep kegiatan tersebut juga dikaitkan dengan keistimewaan dan berkah Ramadan. Proses malam 17 Ramadan misalnya, bertepatan dengan malam Nuzulul Quran. Karenanya, kegiatan diawali dengan salat isya dan tarawih berjamaah, tadarus massal hingga khatam Alquran dan pengajian.
Sementara pada malam ganjil lainnya, menjadi pengharapan bisa mendapatkan malam lailatul qadar. Di bagian lain, pihaknya melakukan sejumlah terobosan baru dalam menyemarakkan kegiatan masjid. Kegiatan mengaji anak yang setiap harinya dilaksanakan di masing-masing rumah ustadz, selama Ramadan disentrakan di masjid.

Sesuai jadwal, usai salat asar dilaksanakan pengajian umum hingga waktu berbuka puasa dengan mendatangkan ustadz setempat. Sementara usai tarawih dilaksanakan siraman rohani oleh imam masjid dan dilanjutkan dengan tadarus Alquran. Sedangkan usai salat subuh, masjid digunakan untuk kuliah tujuh menit (kultum).

Adapun yang khas dalam kultum yang diikuti seluruh jamaah masjid, itu tidak hanya menghadirkan pembicara dari para ustadz saja. Sejumlah kalangan, seperti tokoh masyarakat, santri, alumnus pondok pesantren dan perwakilan remaja juga dilibatkan menjadi pembicaranya. ”Ini diharapkan bisa menjadi pencerahan bagi jamaah, sekaligus pelatihan bagi adik-adik yang masih muda,” imbuhnya.

Kegiatan tersebut mendapat respon positif dari pemerintah desa. Sebagaimana disampaikan Kaur Keuangan Desa Cingebul, Mustofa, tradisi murak tompo menjadi warisan pendahulu yang penting untuk dilestarikan, karena di dalamnya mengandung banyak nilai positif. Begitu pula dengan serangkaian kegiatan Ramadan, menurutnya semakin memberi pencerahan agama bagi masyarakat. “Diharapkan tradisi murak tompo yang selama ini dilaksanakan akan terus dilestarikan. Begitu pula dengan kegiatan Ramadan lainnya, diharapkan ke depan akan semakin ramai dan berkah,” kata Mustofa, Rabu (22/6).

Penulis Teguh Hidayat Akbar, Posted Tofaneyeni