Masyarakat Cingebul memiliki teknik tradisional mengenali jamur aman dan berbahaya. Antara lain dengan pengenalan visual, aroma dan rasa

Masyarakat Cingebul memiliki teknik tradisional mengenali jamur aman dan berbahaya. Antara lain dengan pengenalan visual, aroma dan rasa

Cingebul.desa.id – Seperti pepatah “Bagaikan jamur di musim penghujan”, begitulah tabiat mahluk jenis fungi ini. Pada musim penghujan, saat kelembapan begitu tinggi, maka jamur dengan berbagai macam dan ukuran bertumbuhan. Namun, tidak semua jamur bisa dikonsumsi. Berikut adalah cara masyarakat Cingebul mengenali jamur yang aman dikonsumsi atau tidak.

Warga Grumbul Purbakerta, Mahful mengatakan masyarakat Cingebul memiliki teknik tradisional mengenali jamur aman dan berbahaya. Antara lain dengan pengenalan visual, aroma dan rasa.

“Biasanya jamur yang berwarna terang, seperti merah menyala, biru, kuning terang, atau hitam legam, itu berbahaya. Jangan coba-coba memakannya,” kata Mahful kepada cingebul.desa.id, Selasa (14/4).

Sebaliknya, jamur aman dikonsumsi berwarna tidak mencolok. Ada yang berwarna putih, cokelat, abu-abu atau kombinasi dari kedua warna yang “kalem” itu.

Namun, warna saja menurut Mahful tidak menjamin bahwa jamur tidak berbahaya. Perlu diperhatikan lebih lanjut, apakah beraroma kuat apa tidak. Kalau ternyata tidak, maka jamur tersebut bisa jadi mungkin dikonsumsi.

“Jamur beraroma kuat menusuk hidung biasanya beracun. Ini ajaran dari orang-orang tua kita,” tukasnya.

Selain dikenali secara visual dan aroma, masyarakat Cingebul masih memiliki satu cara lain. Ibarat kata, filter terakhir untuk menjamin agar jamur tersebut aman. Yakni dengan cara mengukus bersama dengan beras (nasi-red).

Biasanya, kalau aman, maka nasi tidak akan berubah warna. Namun jika nasi berubah warna, apalagi ditambah bau menyengat, bisa dipastikan jamur tersebut berbahaya.

Kendari demikian, Mahful tetap tidak menganjurkan warga mengkonsumsi jamur yang belum dikenali. Ia mengimbau agar masyarakat mengkonsumsi jamur yang sudah biasa dikonsumsi. Antara lain, jamur barat, sempagi, jamur kedelai, jamur merang, jamur tiram kayu, dan jamur lember (kuping-red).

“Selain itu, harus melewati proses pengenalan apakah berbahaya apa tidak. Jangan buru-buru dimakan, mbok semaput!” pungkasnya. (admin-r)